Baca juga: Preman Pamit Tobat – Cerpen Ferry Fansuri (Rakyat Sultra, 06 Agustus 2018)
Aku masih memilih diam. Tak ingin kembali ke dalam tubuhku. Kau tahu itu, Iraya? Tak akan pernah tahu. Bahwa kini kau telah bahagia, meski ingatan-ingatanmu itu terus memburumu sampai kapan pun. Ingat, Iraya. Bahwa janji harus dibayar lunas. Sampai kapan pun kau akan dihajar ingatan masa lalu yang tertinggal di dalam tubuh.
Kini aku sudah terlalu puas menemui ibuku, Iraya. Aku ingin kembali ke dalam tubuhku. Sialnya, tubuhku sudah dikuburkan bersama kenanganku. (*)
Gija’, 08 Januari 2018
Aksan Taqwin Embe adalah penulis dan guru bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang, serta menyisihkan waktu untuk mengelola buletin Tanpa Batas di dalam komunitas Kabe Gulblek, Banten. Ia termasuk 15 Emerging Writers Indonesian yang diundang dalam perhelatan Internasional Ubud Writers and Readers Festival 2017. Ia juga menjadi penulis terpilih di Majelis Sastra Asia Tenggara 2018. Karyanya berupa kumpulan cerpen bertajuk Gadis Pingitan (BieM, 2014).