Masa Lalu yang Tertinggal di Dalam Tubuh

Aku berjalan pelan-pelan berusaha mengikutimu. Memasuki rumah dari pintu depan. Berjalan perlahan-lahan agar tidak terdengar suara tamparan sandal jepitku ke lantaimu. Aku mendelik melihat bapakmu. Tubuhku gemetar, ketakutan, sangat ketakutan. Kemudian aku keluar kembali. Aku tak kuasa melihat segala ritus yang dicipta bapakmu. Tapi nyatanya, bapakmu tidak melihat diriku yang masuk kemudian keluar dari rumahmu. Aku hanya mampu mengintip ritus kalian dari bibir pintu rumahmu. Tak seorang pun yang bisa melihat diriku. Tapi aku tak pernah sadar bahwa sebenarnya aku bisa dengan leluasa memberontak dan berteriak untuk mengacaukan pertunanganmu.

Sudah ada cincin yang melingkar di jari manismu, Iraya. Manis sekali. Aku sangat sedih melihatmu. Tapi ketika cahaya lampu memantul dan menukik ke mataku, tiba-tiba mencipta air mata yang deras. Aku mencoba mengikhlaskan, merelakan dan melepasmu dalam kesunyian di kepalaku.

Baca juga: Dari Balik Jendela – Cerpen Herumawan PA (Rakyat Sultra, 24 September 2018)

Betapa aku masih memegang teguh nasihat ibu di suatu waktu. Nasihat yang dilantunkan ketika purnama sudah hampir tenggelam.

…mencintai perempuan yang sudah milik orang adalah perbuatan yang sangat bedebah. Merusak hubungan orang adalah akan berakibat fatal pada diri kita…

Di purnama berikutnya ibu telah meninggal. Kau tak datang takziah meski hanya sekadar mengucap turut berduka cita. Kau takut bapakmu murka. Kau takut bapakmu menerka bahwa kau masih berhubungan denganku. Bahkan kau pula yang mengatakan kepada Tharisa—karibmu, bahwa kau tak akan pernah mampu menahan air mata ketika memandang sepasang mataku. Kau hanya menitip salam kepada Tharisa untuk disampaikan kepadaku, bahwa kau turut berduka. Setelah kau tahu sudah hari keseratus meninggalnya ibu, kau sudah mencoba melupakanku selama-lamanya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia