Iraya, tahukah kau bahwa aku si bujang masih meresapi kesunyian dan kegelisahan yang tercipta sebermula dari keputusan hidup yang kau jalani saat ini? Aku mengetahui bahwa diriku tak akan mungkin lagi bersatu denganmu. Sebab sebentar lagi, dalam hitungan angka-angka di kalender Jawa, kau akan segera menikah dengan lelaki yang saat ini sudah mampu kau cintai.Aku tidak bisa membayangkan bahwa kau beranak pinak dengan lelaki yang sudah kau pilih. Dalam ingatan masa lampau, bahwa yang mampu menciptakan anak ke rahimmu adalah benih dariku. Barangkali sampai kapan pun kau tak mampu memaafkan dirimu sendiri karena memutus hubungan kita hanya perkara ibu dan bapakmu tidak setuju. Kau tidak sanggup memperjuangkan hubungan kita. Justru kau berlari mengambil keputusan yang teramat perih. Mencintai lelaki yang hampir sepuluh kali menyatakan cinta kepadamu. Lelaki yang mulanya kau abaikan, kau tolak cintanya, karena semula cintamu hanya untukku; lelaki—si bujang yang dihajar kesepian.
Baca juga: Matinya Penyembah Puisi – Cerpen Ken Hanggara (Rakyat Sultra, 19 September 2018)
Lamat-lamat setelah kau mengambil keputusan, kau menjadi cinta dengan lelaki pilihan ibu dan bapakmu. Tapi perlu kau ketahui, Iraya. Bahwa ingatan-ingatanmu itu akan muncul secara tiba-tiba, akan semakin menderas ketika kau masih memiliki utang bahwa kau siap menerimaku apa adanya,yang kau putus secara tiba-tiba. Sampai kapan pun itu.
Untuk melupakan segala ingatanmu itu, kau mencoba membakar foto-foto bersamaku. Kau robek surat-surat dariku kemudian kau tenggelamkan di foto-foto yang masih terbakar. Air matamu jatuh secara tiba-tiba. Kau tak sadar air mata itu adalah tanda bahwa kau tak kuasa melupakanku. Bagimu, aku adalah lelaki yang bisa melengkapi segala kekuranganmu. Menuntunmu seperti gadis kecil ketika meminta sesuatu. Aku memahami bahwa kau adalah gadis yang manja. Tentu aku bisa mengimbangi, sebab kau adalah perempuan yang sangat kusayangi.
Baca juga: Kawali dan Pistol – Cerpen Alfian Dippahatang (Rakyat Sultra, 17 September 2018)
“…sungguh! Aku sangat mencintaimu. Banyak sikap penyayang ada pada dirimu seperti ibu menyayangiku. Bukan berarti aku membayangkan bahwa kau seperti ibuku. Dosa besar, Iraya. Dosa…”
Kau tersenyum bahagia ketika aku yang kau idamkan sepuluh tahun yang lalu—serupa bapakmu yang menyayangimu dan ibumu telah hadir di depanmu. Tapi kau tak pernah menyampikan kepadaku. Hanya karibmu yang mengatakan itu kepadaku. Kau tertutup, menutup mulut serapat-rapatnya. Kau hanya mampu tersenyum sebagai bentuk pengimbangan bahwa kau sangat bahagia mendengar kalimat yang kututurkan.