Masa Lalu yang Tertinggal di Dalam Tubuh

Di suatu waktu, orang-orang sedang merayakan hari kebahagiaan. Termasuk Tharisa. Ia telah menikah dengan karib kita. Di dalam keluarganya tidak ada masalah, mereka justru mendukung temali kasih sayang yang sudah ia rekatkan sedari SMA. Kita datang berdua di pesta pernikahannya. Kemudian Tharisa memberikan bunga yang digenggamnya sedari pagi, setelah ia dan suaminya dinyatakan sah menjadi suami-istri. Konon, ketika perempuan mendapatkan bunga yang digenggam dari pengantin baru, maka selekasnya ia akan menikah. Mereka juga berdoa agar kita lekas menikah. Setelah beberapa bulan kau memegang bunga itu, menciumi dengan lembut sambil mata terpejam, entah apa yang kau pikirkan, entah apa yang kau doakan. Barangkali kau merapal doa-doa untuk kita. Mengamini apa yang diucap Tharisa. Nyatanya benar, kau akan segera menikah. Tapi tidak denganku. Kau menikah dengan lelaki yang masih kau pelajari bagaimana cara mencintainya.

Baca juga: Lelaki Bermata Teduh – Cerpen Marzuki Wardi (Rakyat Sultra, 07 September 2018)

Doa-doa yang diterbangkan dari bibir Tharisa menembus semesta berasa sia-sia. Tidak, tidak ada doa yang sia-sia. Doa adalah harapan, dan Tuhan berhak menentukan. Barangkali doa yang kau rapal dengan memegang kemudian menempelkan bunga di dadamu sembari memejamkan mata itu adalah kau ingin membahagiakan orang tuamu. Siapa yang tahu doa dalam hati. Tak satu pun orang yang tahu harapannya yang tak terucap, yang disimpan rapat-rapat.

***

Sewaktu itu, dua minggu sebelum 1 Syawal pernikahanmu telah dirayakan. Kau sudah resmi menjadi istri lelakimu secara agama dan negara. Kalian tampak bahagia. Saling menyalami tamu-tamu yang bertandang dengan senyum paling manis. Aku merasa bahwa diriku duduk di kursi paling depan.

“Apakah ini mimpi?” teriakku.

Baca juga: Sulur – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)

Aku mengamati kebahagiaanmu, merasai panas jantung yang terbakar. Kau tahu itu, Iraya? Aku yakin tidak tahu. Sebab jika kau mengetahui adanya diriku, kedatanganku di depanmu yang pernah kau cintai, mendadak kau akan melarikan diri menuju kamar kemudian menangis sejadi-jadinya. Aku yakin itu.

***

Aku masih memejamkan mata, duduk dengan posisi tubuh tegap dengan kaki yang terlipat. Aku masih merasai angin yang menerpa, memejamkan mata. Aku memilih meninggalkan tubuh sendiri, melarungi segala getir yang kurasa. Aku merasa pergi ke suatu ruang. Ruang itu sangat terang benderang. Rupanya ada ibuku di sana. Aku masih bersedih dengan jiwa yang masih bertarung kegelisahan. Aku merasa bahwa ibu memelukku sekuat tenaga. Aku ingin menyampaikan bahwa diriku berlarut dalam kesendirian, berujung hidup yang teramat menyakitkan.

Arsip Cerpen di Indonesia