Setiap hari mereka toh melihat dengan jelas kerusakan yang melanda teluk itu. Sedimentasi makin meningkat. Dari hari ke hari sampah semakin banyak, seolah teluk itu adalah tempat sampah raksasa yang sengaja dibuat untuk itu. Akibatnya ruang mereka mencari ikan dan kerang serta kepiting selama puluhan tahun ini semakin menciut. Seperti hari itu. Risal hanya membawa pulang empat ekor kepiting yang kurus dan pucat pula.
“Sudahlah, Bu, jangan diingat-ingat terus,” ujar Risal dalam nada halus. Ruwah agak terkejut. Ia tak menyangka anaknya bisa tahu apa yang ada dalam pikirannya saat itu.
Baca juga: Upaya Menghapus Kenangan – Cerpen Muhtadi Chasbien (Rakyat Sultra, 21 November 2018)
“Bagaimanapun saya belum bisa melupakan kejadian itu, Nak. Tidak mungkin.”
Risal meletakkan empat ikat kepiting ke lantai papan. Tatapannya tertuju pada permukaan air di teluk. Tak terasa gelap mulai turun seolah tanpa pergantian senja.
“Tapi itu sudah lama sekali, Bu, kasihan arwah Ayah kalau Ibu terusterusan seperti ini.”
“Entahlah, Nak. Rasanya saya masih belum sanggup melupakan kepergian Ayahmu,” balas Ruwah sambil terisak.
2/
Setahun sebelumnya.
Setiap kali azan berkumandang, Ruwah buru-buru keluar ke beranda belakang rumah panggungnya. Ia memandang masjid megah di tengahtengah teluk itu dengan perasaan hancur. Hatinya seperti disayat-sayat. Perih. Setelah itu, tanpa ia sadari, air matanya tumpah disertai tangisan halus. Bibirnya bergetar, menggumamkan kata-kata tak jelas. Entah doa, entah rasa sesal, entah kesedihan atau mungkin gabungan ketiga hal itu sekaligus.
Masjid itu hampir rampung dikerjakan. Kubahnya sudah jadi. Pengeras suara juga sudah dipasang. Dinding dan lantai keramiknya dalam proses penyelesaian. Meski belum diresmikan penggunaannya oleh pemerintah setempat tapi orang sudah menggunakannya untuk salat berjamaah. Terutama para pekerja bangunan dan para mandornya.