Perempuan yang Menangis Melihat Masjid

Tiba-tiba terdengar tawa Sahal yang keras, sangat keras.

“Mana ada ikan warna-warni di sini Ruwah. Teluk ini bukan terumbu karang. Kamu ini ada-ada saja.”

Sahal memandang kejauhan, menatap ujung horizon, kaki langit, yang pagi ini berwarna biru cerah. Cuaca tampaknya sangat bagus hari ini, pikir Sahal. Sisa tawa masih menggantung di bibirnya.

Baca juga: Dari Balik Jendela – Cerpen Herumawan PA (Rakyat Sultra, 24 September 2018)

Sambil mendayung meninggalkan rumahnya, dari jauh Sahal sudah bisa melihat puluhan kayu bulat tegak di atas air, mirip tiang bekas rumah bagang. Ketika tiba di lokasi ia merasa air masih terlalu tinggi. Dasar air masih cukup dalam. Sekitar enam depa pasti ada, pikirnya. Sejenak ia menimbang-nimbang apakah ia akan langsung bekerja atau menunggu pekerja lainnya datang. Ia alihkan pandangan ke daratan seolaholah mencari  kawankawannya. Tapi yang ia lihat hanyalah barisan mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan By Pass, dekat Jembatan Triping.

Perlahan sampannya ia rapatkan ke kumpulan kayu bulat yang tegak di atas air. Ia meraih sebatang, memegang seraya menggoyanggoyangnya beberapa detik sampai ia pastikan kayu bundar itu telah tercabut dari lumpur. Tak lama kemudian, ia turun ke air setelah menambatkan sampannya pada salah satu kayu tegak yang ada di situ. Sambil berenang, Sahal menyeret sebatang kayu bulat. Panjangnya sekitar tujuh meter. Kayu itu  akan ia tancapkan di salah satu sudut yang sebelumnya telah diberi tanda dengan pelampung.

Baca juga: Matinya Penyembah Puisi – Cerpen Ken Hanggara (Rakyat Sultra, 19 September 2018)

Beberapa saat kemudian, Sahal berusaha menancapkan kayu bulat itu ke dalam lumpur. Berulang-ulang ia melakukannya. Bahkan sesekali ia melakukannya dengan dua tangan dan dengan kekuatan penuh. Di lihat dari jauh, Sahal seperti sedang menombak sesuatu dalam air dengan menggunakan sebatang kayu bundar. Hampir seluruh batang kayu tenggelam dalam air. Tapi Sahal belum puas. Ia merasa kayu itu belum cukup dalam menancap dalam lumpur.

Sahal terus mencoba dan ia baru berhenti setelah kayu yang ia tancapkan  membentur sesuatu yang keras di dasar sana. Sekali lagi ia mencoba. Tetap tak bisa masuk. Sahal berpikir sejenak seraya menebak-nebak benda yang menahan kayunya masuk lebih dalam.  Sepanjang yang ia tahu, tak ada benda padat dalam teluk itu.

Arsip Cerpen di Indonesia