Perempuan yang Menangis Melihat Masjid

Tak mau penasaran lebih lama, meski tanpa kacamata selam, Sahal menyelam, ingin tahu apa yang ada di bawah sana. Sambil memegang batang kayu, Sahal terus masuk dalam air dengan mengandalkan ketahanan napas yang ia miliki sebagai mantan penyelam mutiara di Laut Banda. Ia tebar pandangan ke sekitar tapi tak mampu melihat lebih jauh karena air teluk yang keruh. Ternyata air lebih dalam dari perkiraannya semula. Ia ingat ukuran kayu bundar itu. Mungkin tujuh depa lebih, pikirnya. Belum lagi mencapai setengah kedalaman, ia sudah tak mampu bertahan lebih lama dalam air. Napasnya hampir habis. Buru-buru ia naik ke atas untuk mengambil napas.

Baca juga: Kawali dan Pistol – Cerpen Alfian Dippahatang (Rakyat Sultra, 17 September 2018)

Ketika ia kembali menyelam, Sahal telah bertekad ingin tahu benda apa yang tadi membentur kayunya.  Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan agar keinginannya dikabulkan. Kali ini saya harus sampai di dasar, bisiknya dalam hati.

Sahal merasa hampir sampai ketika ia dikejutkan oleh benda hitam mirip tali-temali yang mengelilingi pangkal kayu, persis di atas permukaan lumpur. Sejenak ia ragu, seraya terus berpikir tentang benda itu. Sahal ingin memastikan. Ia memberanikan diri menyelam lebih dalam. Tanpa ia tahu, tubuhnya kini sudah berada dalam lingkaran kawat-kawat berkarat. Puluhan jumlahnya. Dan sampai saat itu, Sahal tak menyadari bahaya tengah menguntitnya.

Baca juga: Sulur – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)

Kehadiran Sahal yang begitu tibatiba, membuat puluhan ikan melarikan diri membuat air semakin keruh. Sahal semakin curiga. Kini pandangannya tiba-tiba gelap. Saat ia mencoba keluar dari sana, tubuhnya tertahan oleh puluhan kawat yang menjeratnya. Pada saat itulah timbul kesadaran dalam dirinya tentang apa yang ia temui. Kawat-kawat itu pasti bekas bubu orang Bajo yang mereka tinggalkan di teluk itu beberapa tahun yang lalu. Demikian pikirnya. Sahal ingat semuanya justru pada saat tubuhnya sudah terjerat kawat-kawat berkarat yang hampir terbenam dalam lumpur. Ia terus berusaha meskipun terasa sia-sia. Sekujur tubuhnya terasa perih oleh luka goresan kawat.

Arsip Cerpen di Indonesia