Baca juga: Lelaki Bermata Teduh – Cerpen Marzuki Wardi (Rakyat Sultra, 07 September 2018)
Sahal bingung dan menjadi semakin gugup. Ia tak bisa lagi berpikir apa yang harus ia lakukan. Sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, ia merasa melihat puluhan ikan warna-warni berenang mendekati tubuhnya.
Siang harinya, tubuh Sahal ditemukan oleh dua kawannya yang siang itu datang terlambat. Mereka membawa mayat Sahal ke rumahnya dan disambut oleh Ruwah dengan jerit histeris sepanjang petang sampai malam harinya. Dan Sejak itulah, Ruwah sering memandangi masjid itu lama-lama sambil menangis. “Bagaimanapun, masjid itulah kuburmu yang sebenarnya,” bisiknya pada diri sendiri. (**)
Konda, Januari 2018
Arsyad Salam, penulis novel dan cerpen. Novelnya yang telah terbit Kidung dari Negeri Apung (Gramedia Pustaka Utama, 2015); Jejak Manusia Langit (Settung Publishing, 2016), dan Lintasan Menikung (Langgam Pustaka, 2017). Juga sebuah kumpulan cerpen berjudul Pasung Jiwa Merpati Putih (Settung Publishing, 2016). Beberapa cerpennya pernah dimuat di Suara Merdeka, Padang Ekspress, dan Kendari Pos. Kini ia tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kontak penulis di pos-el: mailarsyadsalam@ gmail.com