Dulu, sewaktu lokasi untuk masjid itu masih dalam proses pembersihan, Ruwah pernah berangan-angan kelak kalau masjid itu sudah jadi, Sahal akan menjadi bilal di sana. Ia bayangkan, setiap subuh Sahal akan bergegas ke masjid, mengumandangkan azan, memanggil orang-orang untuk sembahyang. Sepulangnya dari sana, segelas kopi hangat telah tersedia di meja. Ah alangkah indahya dunia, pikir Ruwah waktu itu.
Tapi belakangan ini angan-angan Ruwah itu sering terganggu. Ia sering bermimpi. Sekali, ia pernah bermimpi melihat Sahal keluar dari masjid mengenakan jubah putih. Seluruhnya putih. Ruwah jadi ingat pakaian orang yang naik haji. Dalam mimpinya itu, ia melihat wajah Sahal sangat bersih bahkan tampak lebih muda dari usianya. Sahal tersenyum kepadanya tanpa bicara sepatah kata pun sampai ia lenyap seperti debu.
Baca juga: Ibuku Malaikatku – Cerpen Nanda Rista Noviati (Rakyat Sultra, 05 November 2018)
Di lain waktu, Ruwah mimpi lagi. Kali ini ia mimpi menyelam di kedalaman teluk di depan kampungnya, Kampung Bakau. Airnya sungguh jernih. Ia bisa menyaksikan dengan jelas puluhan ikan warna-warni bermainmain tak jauh darinya. Mereka sungguh jinak, pikirnya. Apa yang ia lihat begitu nyata, seolah-olah ia bisa menyentuh ikan-ikan yang berseliweran itu. Rasanya ikan-ikan itu seperti sengaja menyediakan diri untuk ditangkap oleh Ruwah. Dan ketika Ruwah mencoba meraih mereka dengan tangannya, yang ia dapati hanya air belaka. Ruwah hanya mampu memandang mereka semua, seperti ketika ia melihat ikan-ikan itu dalam akuarium di toko ikan hias.
Baca juga: Cornelia dan Api di Dadanya – Cerpen Seto Permada (Rakyat Sultra, 15 Oktober 2018)
Leluhur Ruwah yang tinggal di hutan bakau teluk itu sejak dulu konon percaya apa yang dilihat atau dialami dalam mimpi mengandung petunjuk, isyarat atau tanda akan terjadinya sebuah peristiwa meskipun kadang faktanya bertolak belakang dengan mimpi itu sendiri. Artinya, kalau seseorang mimpi sedang sakit, itu adalah isyarat yang bersangkutan akan tetap baik-baik saja alias tetap sehat selama kurun waktu tertentu. Begitu pula sebaliknya.
Karta, tetangga Ruwah di Kampung Bakau yang lumpuh selama sepuluh tahun pernah bermimpi jatuh dari kuda saat ia menjadi joki seekor kuda pacuan. Kedua kakinya patah dan hancur laksana kayu lapuk yang kering. Tiba-tiba terjadilah keajaiban itu. Dua hari setelah ia mimpi, Karta bisa menggerakkan kakinya, bahkan hari itu juga sudah bisa kembali berjalan seperti dulu. Sekarang Karta menjadi tukang ojek di pangkalan depan kampungnya.