Perempuan yang Menangis Melihat Masjid

Ruwah sendiri mulai khawatir akan mimpi-mimpinya. Namun ia hanya menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ia takut menceritakannya kepada orang lain termasuk suaminya dan Risal, anaknya. Meskipun ada keinginan kuat untuk menceritakan mimpinya kepada Sahal, namun ada sejumput keraguan tiap kali ia ingin mengatakan apa yang ia lihat dalam mimpinya.

Ia takut suaminya akan menertawainya, menertawai mimpinya. Ia takut suaminya akan mengejek mimpinya yang kelewat tak masuk akal. Meskipun demikian, Ruwah sangat yakin apa yang ia lihat dalam mimpinya suatu ketika akan menjadi kenyataan.

Baca juga: Lelaki Kesepian Bercerita pada Kursi Kusam di Sudut Cafe – Cerpen Dody Wardy Manalu (Rakyat Sultra, 10 Oktober 2018)

Jumat pagi, Ruwah berusaha mencegah Sahal untuk berangkat kerja. Hari Jumat bukanlah waktu yang tepat untuk menyelam, kata Ruwah. Tapi Sahal hanya tersenyum seraya berkata sebelum jam sebelas ia sudah akan berada di rumah.

“Bagaimanapun saya telah ditunjuk menjadi mandor untuk pekerjaan pemasangan tiang pancang.”

Ruwah tak tahan lagi. Ia pun menceritakan soal mimpi-mimpinya selama ini kepada Sahal yang telah bersiap mengayuh sampannya ke tengah teluk. Hari itu Sahal akan menyelam memasang tiang-tiang kayu bundar dalam lumpur teluk untuk patok pembatas  area masjid yang akan ditimbun.

Baca juga: Membaca Jalan Pikiran Ibu – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Rakyat Sultra, 01 Oktober 2018)

“Bagaimana mungkin kamu mimpi hal-hal semacam itu Ruwah?” tanya Sahal dengan senyumnya yang jenaka, “sejak dulu kita tahu kalau teluk ini sudah rusak.”

Ruwah menundukkan kepala, sambil berpikir kalau suaminya sendiri tak mempercayai mimpinya. Meski demikian, ia tetap mencoba, berusaha menjelaskan kepada Sahal tentang mimpi-mimpi yang telah mengganggunya selama ini.

“Tapi semuanya sangat nyata, Sahal, seolah-olah itu bukan mimpi.”

Arsip Cerpen di Indonesia