Natsume ramah, dan gadis muda itu mengejutkan kami semua saat dia menjadi peminum terhebat di antara kami. Dia berasal dari Shizuoka dan, kalau mabuk, topik-topik aneh akan selalu muncul dari mulutnya.
“Mikajima-san,” ucapnya padaku, “kau tahu siapa yang merancang botol wiski ini?”
Aku menggeleng sembari tersenyum.
“Padahal semua orang tahu….”
“Aku benar-benar tak tahu. Aku jarang minum-minum.”
Kemudian kami tahu di pesta-pesta selanjutnya, dia tipikal orang yang jarang menyelesaikan pertanyaan saking mabuknya. Natsume akan tertidur. Dan pesta minum yang diselenggarakan di tempat Kaede itu berakhir dengan orang-orang menertawakan si gadis yang kuat minum itu.
“Dia benar-benar anak yang hebat. Aku kira dia malu-malu, tapi kini kita tahu kelemahannya,” ujar Yotsuba.
“Lalu, setelah kau tahu kelemahannya, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.
Yotsuba meringis.
“Jangan tolol kalian berdua. Dia gadis yang baik!” tegas Kaede.
Kami pun tertawa. Semua hanya candaan semata.
“Eh, sudah waktunya kita tidur, besok harus kerja lagi!” Misuzawa sekalian beranjak dari tempat itu.
“Lalu bagaimana Natsume-san?” tanyaku.
“Biarkan saja di sini. Aku tak tega membangunkannya,” ujar Kaede.
Kami pun beranjak ke unit masing-masing. Pukul dua belas malam dan udara mulai dingin.
***
Atap dan Kaede jadi satu-kesatuan. Seolah-olah benang waktu yang terjalin. Nyaris setiap hari kami mendengar derak pintu menuju atap dan kami tahu itu Kaede. Tiga kali sehari dia datang ke atap. Semua penghuni membicarakan tingkah laku Kaede yang aneh, tapi tak ada yang benar-benar berburuk sangka padanya sebab Kaede orangnya ramah dan jujur.
Yotsuba, yang selalu centil dan ingin tahu urusan orang, kadang menggoda Kaede dan bertanya apa yang dia sembunyikan di atap.
“Jangan-jangan kau menggelapkan narkoba. Setidaknya bagi ke aku beberapa ratus gram.”