Rahasia Kaede

Memikirkan apa yang dilakukan Kaede waktu itu rasanya terlalu sulit. Aku dikejar tenggat untuk naskah cerita bersambung di majalah yang nanti akan jadi volume kedua novel terbaruku. Lucunya, Mitarashi-senpai kadang muncul dalam mimpiku. Dia kakak yang kuhormati, baru saja menikah, dan setelah tahu aku menjalin asmara dengan Natsume selalu mendorong-dorong diriku untuk cepat menyelesaikan naskah dan mengatakan segala hal tentang motivasi hidup dan pernikahan. Kupikir harusnya Mitarashi-senpai hidup di paruh kedua zaman Showa saja karena semua omongan itu terpental tak sampai hatiku. Aku tak pernah benar-benar berpikir untuk menikah di usia 25 tahun. Kalau mesti menikah, aku berharap akan menikah pada usia 35 tahun saat aku benar-benar tahu diriku ini sukses atau pecundang. Aku harus melangkah jauh dan nasihat demi nasihat yang diucapkan kakak kelasku itu hanya aku telan sebagian.

Aku menyesal tak memikirkan Kaede sebanyak kini. Pikiranku berkutat pada cerita yang mesti kuhasilkan sehingga perasaan-perasaan semu macam yang ditunjukkan Kaede akan hubunganku dengan Natsume tak tampak dan tak terasa bagiku. Hanya bermodal firasat tanpa pernah menjenguk ke dalam adalah kesalahan fatal kesekian.

Sengatan ingatan akan dirinya pun masih tetap datang meski kucoba bilas dengan mabuk dan muntah-muntah setelah tak kuat menjaring alkohol dalam tubuh. Hari itu adalah Senin sebagaimana biasa, hari di mana kemalasan mesti dipupuk jadi semangat. Aku datang ke unit apartemen Kaede tanpa dia undang. Aku tak sengaja memergokinya baru selesai memakai jubah mandi. Dan kejadian itu menimbulkan impresi kuat akan suara siut jubah Kaede dan jadi hal yang tersimpan dalam-dalam di pikiranku. Lekuk tubuhnya terlihat dan bukannya malu, dia malah tersenyum ramah. Jadi aku yang segan sendiri.

“Maaf, Kaede-san, aku datang tanpa pemberitahuan.”

“Tak apa-apa, aku baru selesai mandi. Ada apa memang?”

“Aku mau menitipkan kunci ruanganku padamu. Seminggu ini aku akan pergi ke Selatan, ada urusan. Sudah kukatakan pada Natsume kalau nanti dia pulang agar meminta kuncinya padamu.”

Kaede mengangguk dan tersenyum. Pintunya kembali tertutup, tapi ingatan itu tak pernah pungkas bahkan setelah diriku dihadapkan pada pintu. Sepanjang perjalanan naik kereta, aku merasa gelisah kala itu. Aku terbenam dan tertidur sejenak lalu bermimpi. Mimpi ini tak lagi kuingat, cuma rasanya masih jelas tergenggam. Lembut, tenang, dan begitu melenakan seperti sekujur tubuh Kaede.

Semua urusan telah selesai. Aku pulang dan bercinta dengan Natsume hingga fajar. Alasanku begitu kasar pada Natsume pada jam-jam itu adalah kerinduan semata. Meski aku berbohong. Seharian aku memikirkan alasan itu dengan kemurungan yang luar biasa. Aku telah melukai Natsume dengan sebilah belati kalau dia tahu bahwa saat bercinta itu aku bukan membayangkan dirinya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia