Rahasia Kaede

Hari terakhir kegembiraan kami tiba dalam bunyi kejut yang mengerikan. Kalau diungkapkan, rasanya daya kejut itu membuatmu bangun untuk selama-lamanya dari ranjang maut dan merasa bahwa dirimu berdosa setelah itu. Aku takkan melupakan malam itu, bahkan hingga kini. Surutnya karier kepenulisanku adalah karena aku masih mengingat apa yang terjadi malam itu. Suara gedebuk keras membangunkan tidurku. Natsume ikut terkejut karena selimutnya tertarik tubuhku.

“Ada apa?”

“Aku dengar suara benda jatuh keras sekali.”

Kami berdua melihat benda yang jatuh itu lewat jendela. Meski hari tanpa terang bulan, benda yang jatuh itu jelas terlihat. Itu tubuh manusia. Tepatnya tubuh Kaede. Kami tak bisa lagi berkata apa-apa. Semenit kemudian, terdengar langkah gegas dari balik pintu.

Aku membuka pintu dan muncul wajah panik Yotsuba dan para penghuni lain.

“Kaede jatuh!”

Kami pun turun ke lantai pertama dan menemukan Kaede dengan tubuh hancur. Darahnya luber ke mana-mana. Sebagian penghuni apartemen tak tega melihatnya. Lima belas menit kemudian, polisi datang lalu menanyai orang-orang sebagai saksi. Kemudian tubuh Kaede diangkut dalam mobil ambulans. Aku dan Natsume masih sempat memeriksa unit Kaede sebelum tempat itu ditutup garis polisi.

Surat wasiatnya kami temukan di meja. Surat itu terbuka dan ujung-ujungnya ditindih manik-manik dan sebuah kunci agar tak bergeser kena angin. Jendela ruang apartemennya memperlihatkan pemandangan dinihari dengan langit yang mulai terang. Kisah dalam surat itu kami baca dengan segumpal kesedihan tak dinyana. Tercium harum teh apel di ceret yang berada di atas kompor.

Jadi selama ini Kaede menanam bunga sebagai simbol cinta untuk Natsume. Akan tetapi, sebagaimana semua orang tahu, Natsume mencintai lelaki, bukan sesama perempuan. Natsume jatuh cinta padaku dan dia menyesal Kaede bunuh diri dengan lompat dari atap dan pesan terakhir dalam surat itu adalah pengakuannya tentang rahasia atap. Untuk membuktikan apa yang Kaede tulis, kami pun naik ke atap. Di sana kami disuguhi pameran rekah nagami hinageshi yang saat itu kembang sebab telah beranjak fajar. Jingga dan mendayu-dayu sebentar karena angin. Para penghuni lainnya pun mengikuti kami dan terpana menyaksikan bunga-bunga itu.

Arsip Cerpen di Indonesia