Entah bagaimana Yotsuba memadankan pose tak sadar Natsume dengan pohon. Karena menyebut pohon ini, aku malah membayangkan pohon cedar yang mengelompok di ketinggian tanah kuil. Tanah megah dalam benakku itu adalah Fushimi Inari dan ribuan torii di jalan setapaknya. Rasanya aku saat itu sudah mabuk. Yang jelas, Kaede terus menatap aku dan Natsume dengan tatapan yang menurutku berapi-api. Dungunya aku waktu itu merasa diriku disukai Kaede karena tatapan apinya. Sebagai penulis, aku terlalu percaya diri. Kesalahan yang telak. Aku yang waktu itu berilusi dan seolah-olah berkimbang dalam tatapannya.
***
Awal musim semi dan bunga muncul dari kedalaman tanah yang menyimpan semangatnya. Hubungan para penghuni kian erat dan mereka sudah tidak lagi memusingkan tingkah Kaede dan atapnya. Aku dan Natsume sering kali berbincang di koridor apartemen dan sesekali aku datang ke unitnya untuk makan malam atau membicarakan buku. Kebetulan dia juga suka membaca novel ringan dan menonton anime.
“Meski bukan otaku, aku suka semua hal tentang anime. Tapi tak keburu bablas. Bisa dibilang setengah-setengah,” akunya.
“Kau bilang suka. Berarti kau termasuk otaku, dong,” godaku.
Natsume tersenyum. “Kalau dipikir-pikir betul juga. Mikajima-san…”
Sejenak kemudian baru aku sadar, Natsume menciumku.
Kami saat itu tak mendengar pintu diketuk dan langkah seseorang masuk, saking terenyaknya kami berdua dari dunia karena kejadian itu. Natsume akhirnya mengaku padaku.
Natsume tak sengaja bilang dirinya menyukaiku di depan Kaede yang baru masuk ke ruangan dan memergoki kami. Kaede kebingungan dan memutuskan keluar dari apartemen Natsume. “Maaf mengganggu!” Perasaanku saja ataukah dia sedikit terguncang, aku bertanya-tanya kala itu.
Seminggu berlalu dan kami memutuskan berpacaran. Natsume termasuk gadis yang berani. Sebulan kemudian, setelah berunding dan mempertimbangkan segala hal, aku dan Natsume memutuskan berbagi unit yang sama selaiknya pasangan kekasih lain yang telah merasa diri mereka dewasa. Kami berbagi tugas memasak bersama, dan aku pun cukup terbantu oleh Natsume. Meski yang kubisa hanya membuat kakitamajiru hangat dan selalu hancur saat memasak kari, Natsume jelas perempuan yang pandai sekali memasak. Kami menghabiskan banyak waktu intim dan semakin menggembirakan suatu hubungan maka hal-hal yang tak tercapai dan terendap di dasar hati kami jadi terlupa. Aku merasa waktu itu segala sesuatunya serba enteng dan menyenangkan.