“Tolol sekali kesimpulanmu. Tunggu dengan sabar dan aku akan memberitahumu nanti, Yostuba-kun.”
Yotsuba tentu akan mengalah. Seperti Yotsuba pada kesempatan-kesempatan lain. Kami yang mendengarnya akan ikut tertawa. Meski kadang lebih banyak kami merasa jengkel karena Yotsuba dan suara musik kerasnya itu. Apalagi kalau hari Minggu saat orang-orang beristirahat sejenak.
Di kesempatan minum-minum kesekian, Natsume pun pernah bertanya tentang atap pada Kaede. Namun jelas terlihat Kaede begitu malu dan wajahnya merona. Dia tak menjelaskan apa pun pada Natsume sebagaimana orang-orang lain bertanya. Kaede hanya meminta maaf dan menyuruh semua orang sabar menunggu. Terutama Natsume.
Natsume pun terkejut. “Apa maksudnya, Kaede-san? Apa rahasia itu berhubungan denganku?”
Kaede tampak kebingungan. Dia diam sebentar dan terasa dari jeda itu dia mencari alasan yang tepat, dari dekat aku merasakan perubahan ketegasan Kaede setiap kali dia berhadapan dengan Natsume. Mungkin saat itu aku hanya berfirasat. Akan tetapi, memang perlakuannya pada Natsume kala itu terasa bagiku sebagai hal yang terlalu lembut dan aneh. Tidak cuma pada pesta minum-minum saat itu.
“Ya, karena kau penghuni baru… ini kejutan yang akan menyenangkan tentunya.” Jawabannya agak membingungkan. Namun Natsume kemudian beralih pada percakapan yang lain. Dia sudah mabuk. Kali ini aku yang disasar. Aku masih mengingatnya dengan jelas apa-apa yang dia katakan padaku saat itu.”
“Mengapa orang sepertimu tak banyak bicara?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum. “Mungkin keahlian bicaraku teralih karena aku menulis.”
“Apa selalu begitu? Jawabanmu mirip penulis-penulis lain.”
“Terima kasih.”
“Ini bukan pujian.” Natsume lalu cegukan. Dan tubuhnya bersandar padaku. Semua orang tersenyum pada kami.
“Padahal kau tampan,” ujarnya. Kemudian Natsume tak sadarkan diri. Tertidur dalam mabuknya dengan muka merah merona.
“Menurutku kalian serasi,” kata Yostuba. “Lihat, dia menggantung padamu seperti pohon.”