Rahasia Kaede

Nagami hinageshi. Bunga poppy yang kadang mencuat di rel kereta atau tepi jalan. Kaede berkeras menanam bunga tersebut di atap sebagai perlambangan kasih sayang tulus pada Natsume. Mengingatnya sekali lagi membuatku terkenang tebakan pertama yang dilontarkan Yotsuba. Tebakan yang menurutku tak sepenuhnya salah. Satu dari beberapa jenis poppy merupakan bahan candu dan akan dimusnahkan kalau tumbuh terlalu banyak. Namun nagami hinageshi adalah poppy lembut yang sepele tumbuh dan tak begitu dipedulikan.

Atap apartemen kami kala itu tersulap bagai ladang mini nagami hinageshi, dan barangkali tak ada yang berpikir semiris diriku kini pada kali pertama menyaksikan jerih payah Kaede. Dugaan dan ketidakpercayaan pada kisah cintanya masih sering dipertanyakan para penghuni apartemen selepas dia meninggal. Kami berbisik-bisik, saling menghibur dan meneguhkan apa yang dilakukan Kaede, meski dari suara dan getar bibir masing-masing, ada yang merasa enggan atau bahkan jijik. Natsume pun begitu, barangkali. Tapi aku tak pernah menanyakannya. Apartemen lalu diurus paman jauh Kaede yang datang dari Osaka.

Enam bulan setelah itu semua berlalu, tak kuat oleh bisikan jubah mandi Kaede yang seperti desir laut malam hari, menghantuiku selama setengah tahun pasca-kematiannya-aku pun memutuskan jadi pengecut: menyudahi hubungan dengan Natsume dan pergi dari apartemen di Shibuya itu untuk selama-lamanya. Sejak menyewa tempat tinggal di sana hingga enam bulan setelah kematiannya, salah satu dari sekian hal yang tak pernah kukatakan pada Natsume adalah bahwa aku mencintai Kaede. Sungguh mencintainya.

 

Bagus Dwi Hananto, tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Menulis prosa dan puisi. Novelnya berjudul Elegi Sendok Garpu (Buku Mojok, 2018).

Arsip Cerpen di Indonesia