Hubungan kami yang lancar itu menjadi bahan perbincangan penghuni apartemen. Bahkan, setelah memutuskan untuk tinggal seunit, kian heboh perbincangan. Orang-orang seperti Yotsuba dan segelintir mantan anggota klub Bunga-Yang-Tak-Pernah-Layu mendesakku untuk mentraktir makan daging atau ramen. Kehebohan ini pun bahkan memancing si pengangguran untuk terlibat. Dia muncul dengan rasa bahagia karena sudah menamatkan permainan sulit yang seminggu sebelumnya membuatnya frustrasi.
“Wah, NEET-kun membuatku heran. Setelah lama tinggal di gua, dia muncul lagi dengan muka lusuhnya,” kata Yotsuba memantik gelak tawa.
“Yotsuba, sialan kau! Begini-begini aku pernah kerja di perusahaan top!”
“Ya, perusahaan bangkrut yang utangnya ratusan juta yen, hi-hi.”
“Hah, setidaknya kepalaku takkan copot karena keseringan headbang!”
“Itu menyehatkan, kawan!”
“Kau konyol. Jelas itu merusak otak!”
“Itu lakuku. Musik keras dan guncangan akan membuat semuanya nikmat.”
Si pengangguran dan Yotsuba terus-menerus bicara dan para penonton sudah melipir untuk menikmati minuman dan berganti topik perbincangan. Mereka menjadi cabang-cabang lain. Misuzawa sekalian, Natsume dan aku, lalu cabang lain para penghuni yang tak lagi memedulikan dua orang konyol itu.
“Natsume-san, biarlah mereka omong sampai berbusa. Mereka berdua selalu saling ejek kalau bertemu,” kataku.
Natsume memeluk tubuhku. Dan semuanya menyoraki kami. “Tidak masalah. Aku senang bisa tinggal di sini. Orang-orang di sini baik semua.”
Sayang, Kaede masih di atap saat kami menggelar pesta di tempat Yotsuba.
Kaede selalu membawa kunci gembok pintu atap agar tak seorang pun punya kesempatan untuk melihat apa yang sebenarnya dia lakukan. Bahkan si pengangguran sudah memasang taruhan dengan Yostuba dan mengira-ngira apa yang tengah dikerjakan Kaede. Kupikir itu keterlaluan, tetapi aku tak menyuarakan ketidaksetujuanku.