Bukan Kita yang Mengakhiri

“Belum punya istri kah?”

“Belum, Ibu.”

Dia memperbaiki posisi duduknya.

“Jika orang jualan di pasar, pasti sebelumnya ada modal yang harus dikeluarkan. Kamu sekarang berani melamar pekerjaan di perusahaan ini, lalu apa modalmu Fejri?” tanyanya dengan serius.

“Aku punya orang tua yang selalu shalat tahajjud mendoakanku.” Jawabku sedikit gugup.

Entah apa yang ada dibenak direktur ini hingga Ia sedikit meneteskan air mata.

“Interviewnya sudah ya,” ujarnya sambil mengusap air mata.

“Iya Ibu, terimakasih.” Aku bergegas keluar.

Di perjalanan menuju pulang, aku heran mengapa interviewnya sebentar sekali. padahal peserta sebelumnya hampir 30 menit didalam ruangan. Sedangkan aku paling Cuma 5 menit. Apa aku salah menjawab singkat seperti tadi? Sehingga direktur meneteskan air mata karena aku sebagai pelamar karyawan baru tidak mempunyai orientasi konkret memajukan perusahaannya. Entahlah, intinya aku tetap berpegang teguh terhadap prinsip hidup, bahwa ‘orang tuaku adalah orang yang membawaku pada kebaikan’.

Sudah dua malam aku tidak bisa tidur. Mungkin sudah tidak sabar menunggu kelulusan besok pagi. Telah aku paksa untuk memejamkan mata, tapi sama saja, tetap sulit untuk tidur.

Jam 2 pagi, aku mencoba keluar dari kamar kontrakan dan duduk di teras agar pikiranku tenang. Dalam kesunyian, tak terasa air mata menetes. Aku teringat bagaimana perjuangan orang tuaku bekerja membiayai kuliahku, dan sampai saat ini aku belum bisa membalas kebaikannya.

“Oh iya, kalau jam segini, ibuku kan shalat tahajjud,” gumamku dalam hati.

Aku segera mengambil handphone untuk menelponnya. Dua kali bordering akhirnya diangkat

“Halo ada apa, Fej?” sahut ibu mengangkat teleponku.

“Tidak ada apa-apa, Bu. cuma kangen aja.”

Oalah, tak kira sudah sakit kamu.”

“Alhamdullah sehat, Bu.”

“Besok kan ya pengumuman kelulusan karyawan baru?”

“Iya buk, doakan aku selalu ya.” Jawabku.

Arsip Cerpen di Indonesia