Hari-hari berjalan lancar, hingga pada suatu hari aku dipanggil direktur yang pada saat itulah aku mengalami kisah yang sakral.
‘Yth. Fejri, diharap menghadap direktur perusahaan saat ini juga’
Begitulah bunyi email yang masuk ke ponselku.
Kemudian aku bergegas menuju lantai 2 ruangan direktur perusahaan ini. Ketika aku keluar dari lift, tak disangka ibu direktur telah menyambutku di depan ruangan.
“Pagi, Fejri. Bagaimana hari-harimu diperusahaan?” Ia menyambutku di depan pintu
“Alhamdulliah baik Bu.” Jawabku.
“Tau kenapa kamu dipanggil kesini?”
“Maaf, aku tidak tau Ibu.”
“Jangan panggil aku ibu, panggil saja Windi.”
“Oke siap, Windi.”
“Aku hanya ingin tanya saja, kenapa kamu dulu pas test interview, jawabnya Cuma punya modal orang tua yang mendoakan untuk kesuksesanku?”
Aku termenung sebentar, mencoba merangkai kata-kata agar jawabanku diterima dengan baik oleh ibu direktur.
“Aku rasa selain tuhan, aktor yang menentukan kesuksesan seseorang adalah orang tua. Orang tuaku, tak henti-hentinya mendoakan setiap siang dan malam untuk kebahagiaan dan kesuksesanku. Juga sudah jelas, ‘dalam hadis menyatakan bahwa keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, begitupun sebaliknya, kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua’. Jadi dirasa tidak salah aku mengatakan bahwa orang tua adalah modal utama aku dalam mengarungi kehidupan.” Ujarku.
Tiba-tiba direktur menangis.
“Terimakasih atas motivasinya, Fej.” ujarnya.
“Aku tidak memberikan motivasi kok. Cuma bicara apa adanya tentang hidupku.”
“Iya paham, tapi ceritamu membuatku termotivasi dan menyesal dengan apa yang aku lakukan kepada kedua orang tuaku dulu.”
“Memang ada apa dengan orang tuamu dulu?”
“Aku bisa dikatakan adalah anak yang durhaka dan tidak pernah menghargai jasa kedua orang tuaku. Tapi maaf, aku tidak bisa membicarakan kepadamu. Masalahku pelik sekali, aku malu.”