Bukan Kita yang Mengakhiri

“Mohon izin keluar, aku mau shalat dzuhur, Win.” ujarku.

“Iya silahkan, Fej. Terimakasih telah menjadi teman ngobrolku.”

“Ayo kita shalat dzuhur di masjid, ingat, paling utamanya shalat adalah yang di awal waktu.” Ajakku pada Windi.

“Iya, Fej.”

Sejak saat itulah Windi selalu meminta aku menjadi teman curhatnya. Entah apa yang ada dipikirannya, kenapa harus aku yang selalu diajak mendengarkan cerita. Kadang Ia bertanya tentang agama, maklum sebelumya Ia tidak pernah belajar tentang agama, yang ia tau cuma shalat dan puasa. Dalam beberapa kesempatan, Ia juga mengajak aku makan dan memperkenalkan dengan teman-temannya.

Kadang juga risih, suatu saat Windi mengajakku makan dan memeperkenalkan dengan temannya. Windi bilang bahwa aku adalah guru privatnya dalam urusan agama. Padahal, aku tidak terlalu pintar tentang keislaman. Tapi, biarkan saja apa kata Windi. Intinya aku bisa berbuat baik kepada orang lain dan dapat mengamalkan ilmuku yang sedikit dan terbatas ini. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat untuk manusia lain? Alhamdulillah, semoga aku diberi kekuatan dan kesempatan menjalankan prinsip ini.

***

Entah apa yang ada dibenak Windi, inilah yang membuat hidupku berubah yang semula aku belum siap menerima kenyataan ini. Suatu saat aku berpapasan dengannya di salah satu toko buah dekat alun-alun kota. Aku lihat, Ia membeli alpukat.

Hei, Fejri. kebetulan nih, kamu mau ngtidak kalau aku ajak ke rumahku?” Ia menyapaku.

“Ada acara apa di rumahmu ya?” Tanyaku.

“Tidak ada apa-apa sih, cuma makan-makan aja. Ayolah, kan besok kantor libur.” Jawab Windi.

Aku berpikir sejenak, “Iya, ayo.”

Saat tiba di rumahnya, aku lihat ada kakek yang duduk santai ruang tamu. Lalu aku hampiri dan bersalamannya dengannya.

“Kamu Fejri calon suaminya Windi ya?”.

Aku termenung tidak paham apa yang dimasud kakeknya Windi ini.

“Windi sering menceritakanmu, nak” imbuhnya.

Apa benar Windi menceritakan bahwa aku adalah calon suaminya? Pikiranku bingung. Sudahlah, mungkin kakeknya Windi ini pikun.

Arsip Cerpen di Indonesia