Bukan Kita yang Mengakhiri

Enak juga masakan Windi, sampai aku kekenyangan. Aku tiduran di kamar depan sambil menunggu jam 23.00 WIB. Dari dulu memang aku tidak bisa tidur kalau belum jam 23.00 WIB. Suara notifikasi WhatsApp mengagetkanku. Setelah aku buka, ternyata notifikasi dari Windi.

‘Mohon maaf sebelumnya, Fej. Kakekku tadi bilang kamu adalah calon suamiku. Memang kakekku ingin sekali aku cepat menikah. Jadi aku bilang kamu adalah calon suamiku. Tapi jauh dari itu, aku benar-benar mencintaimu Fej’

Astaga, ini aku mimpi apa sadar? benar-benar mengagetkan.

“Maksudnya apa, Win?” Aku membalas pesannya.

“Jujur aku mencintaimu, Fej.”

“Jangan bercanda, Win. Aku kenal sama kamu baru seminggu yang lalu.”

“Aku tidak memandang baru kenal atau tidak. Tapi kepribadianmu sangat aku kagumi.”

“Nanti sajalah, bukan waktunya sekarang.”

Hari-hariku semakin menegangkan, entah apa yang akan terjadi, aku pasrah terhadap takdir yang Allah rencanakan. Lagi-lagi, Windi memanggilku di waktu istirahat kerja.

“Duduk, Fej.” Ujar Windi menyambutku.

“Fej. Aku serius ingin mengenalmu lebih jauh.”

“Apa hal yang kamu harapkan dari aku? Aku orang miskin.”

“Aku tidak memandang seseorang dari mana ataupun kaya tidaknya, pertimbanganku cuma satu, bisa menuntunku menjadi pribadi yang lebih baik.”

“Seberapa yakin kamu percaya terhadapku?”

“Aku melihat pribadimu dari kelakuan setiap hari, taat shalat dan ngaji Alquran, aku belum menemukan karawan seperti kamu yang mempunyai kesibukan lebih, tetapi tidak meninggalkan urusan agama.”

Aku harus mengambil keputusan. “Aku akan menerimamu, jika orang tuaku merestui”

“Baik aku tunggu”

Malamku terasa sangat menegangkan. Mengenai hubungan dengan seseorang adalah hal yang sakral. Maklum aku belum mengalaminya. Tapi aku sadar, umurku sudah hampir kepala tiga, saatnya mengambil keputusan. Dengan itu, aku menelpon orang tuaku utuk meminta restu terhadap hal yang aku alami ini.

“Iya, Fej. Sehat kamu?” Ujar Ibuku dibalik telepon.

Arsip Cerpen di Indonesia