“Enggeh, Buk. Aku mau bilang, ada yang melamar menjadi istriku, Buk.”
“Apa? Siapa sih yang mau sama kamu, hahaha.”
“Aku tidak bercanda, buk. Direktur perusahaan tempat aku bekerja melamarku.”
“Kalau ibuk sih terserah kamu saja, intinya serius dalam berhubungan, karena ini menentukan nasibmu kedepan.”
“Berarti direstui Buk?”
“Iya aku restui.”
Akhirnya pikiranku lega juga mendengar restu dari ibuku. Aku akan beri tau Windi tentang hal ini.
Pagi ini aku pergi kekantor dengan naik ojek online. Sepedaku tadi malam bocor dan tidak sempat aku bawa ke bengkel. Sesampainya dikantor, Windi tidak kelihatan sama sekali ya? Padahal setiap pagi biasanya dia lewat depan ruanganku dan selalu menyapaku. Jam istirahat siangpun tiba. Windi biasanya memanggilku, kok sekarang tidak? Aku mencoba melihat keruangannya, tetapi suasananya sepi sekali. Aku mencoba bertanya ke resepsionis kantor.
“Bu Windi tidak masuk hari ini, mas. Katanya lagi ada acara keluarga.” Ujar resepsionis.
Aku mencoba menghubunginya lewat pesan WhatsApp, aku beritahu dia bahwa orang tuaku telah merestui hubungan kita.
‘Win, ini ada kabar baik. Ibuku merestui hubungan kita, dia Cuma berpesan agar sama-sama menjadi pendamping hidup yang baik’.
Ternyata centang satu. Kenapa pikiranku tidak enak ya? Apa mungkin ada apa-apa dengan Windi? Tidak mungkin lah. Aku mencoba menelponnya,
‘Nomer yang anda tuju tidak aktif’.
Dzuhurku, ku mencoba menenangkan diri dengan membaca surat Alquran. Semoga aku dengan Windi baik-baik saja. Suara riuh di depan kantor membangunkanku dari lamunan. Ada apa ya kok teman-teman nangis semua, aku menghampiri mereka.
“Bu Windi kecelakaan, dia meninggal dunia” jawabnya lirih.
Aku tertegun. Tak terasa air mataku tumpah.
Ya Allah, secepat ini kau menjemputnya. Cinta pertamaku yang baru saja aku rangkai kini telah sirna. Aku tau ini keputusanmu, tapi jangan secepat ini ya Allah. Skrenariomu sungguh tak bisa aku tebak. Ku mencoba meninggalkan keramaian dan duduk di belakang kantin.